Banyak perusahaan rutin mengadakan outbound dan team building untuk mempererat hubungan antarkaryawan. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman menyenangkan, membangun kebersamaan, dan memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinteraksi di luar rutinitas kantor. Namun, ada pertanyaan penting yang sering terlewat: setelah karyawan kembali bekerja, apakah komunikasi, kolaborasi, dan cara mereka menyelesaikan masalah benar-benar mengalami perubahan? Sebab, keberhasilan outbound tidak cukup dinilai dari keseruan kegiatan atau banyaknya foto kebersamaan, tetapi juga dari pembelajaran yang dapat diterapkan di tempat kerja.
Penelitian McEwan dan kolega (2017) yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE menganalisis 51 artikel penelitian, mencakup 72 intervensi dan 8.439 peserta. Hasil meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa pelatihan kerja tim memiliki efek positif yang signifikan terhadap perilaku kerja sama dan kinerja tim. Sementara itu, penelitian Klein dan kolega (2009) juga menemukan bahwa kegiatan team building dapat memberikan manfaat bagi efektivitas tim. Temuan ini menunjukkan bahwa kerja sama tim dapat dikembangkan, tetapi tidak berarti setiap kegiatan outbound otomatis menghasilkan peningkatan kinerja. Desain program, tujuan pembelajaran, dan tindak lanjut tetap berperan penting.
Salah satu tantangan terbesar adalah learning transfer, yaitu proses menerapkan pembelajaran dari kegiatan pelatihan ke dalam pekerjaan sehari-hari. Peserta mungkin memahami pentingnya komunikasi dan koordinasi saat menyelesaikan permainan, tetapi kembali bekerja dengan kebiasaan lama ketika menghadapi tekanan target atau konflik antarbagian. Karena itu, perusahaan perlu menghubungkan aktivitas dengan tantangan nyata di tempat kerja, menyediakan sesi refleksi, dan mendorong peserta menyusun komitmen tindakan yang konkret.
Sebelum mengadakan outbound berikutnya, perusahaan sebaiknya menjawab tiga pertanyaan: apa tantangan tim yang ingin diperbaiki, perilaku apa yang ingin dikembangkan, dan bagaimana perubahan akan dievaluasi? Misalnya, jika masalahnya adalah silo organization, perusahaan dapat menetapkan sasaran berupa komunikasi lintas departemen yang lebih terbuka, pembagian tanggung jawab yang lebih jelas, dan koordinasi yang lebih baik. Indikator tersebut kemudian dapat diamati dan dievaluasi sebelum serta setelah program, dengan mempertimbangkan bahwa perubahan juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain di lingkungan kerja.
Berangkat dari pendekatan tersebut, NARA 03 – Nara Team Synergy dari Nara Institute dirancang sebagai program pengembangan tim berbasis experiential learning melalui empat pilar: Brief Diagnostic, Experiential Activities, Facilitated Reflection, dan Team Action Commitment. Program ini membantu perusahaan menghubungkan kebutuhan tim dengan aktivitas yang relevan, menggali pembelajaran dari pengalaman, dan mendorong komitmen perbaikan setelah kegiatan. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat kolaborasi dan mengurangi sekat antardepartemen, dengan hasil yang tetap perlu dievaluasi sesuai sasaran program.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan hanya “Sudah berapa kali perusahaan mengadakan outbound?”, melainkan “Perubahan apa yang ingin diwujudkan setelahnya?” Jika perusahaan Anda ingin merancang kegiatan pengembangan tim yang lebih terarah dan relevan dengan tantangan organisasi, Nara Institute siap membantu mendiskusikan kebutuhan program Anda.
Pelajari NARA Team Synergy: https://narainstitute.net/solutions/nara-03
Konsultasi program: WhatsApp +62 822-6189-9131
Referensi ilmiah:
-
McEwan, D., et al. (2017). The Effectiveness of Teamwork Training on Teamwork Behaviors and Team Performance: A Systematic Review and Meta-Analysis of Controlled Interventions. PLOS ONE, 12(1), e0169604. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0169604
-
Klein, C., et al. (2009). Does Team Building Work? Small Group Research, 40(2). https://doi.org/10.1177/1046496408328821
Belum Ada Tanggapan
Jadilah pembaca pertama yang memberikan pandangan profesional atau tanggapan terkait kajian ini.