Pernahkah kita membayangkan dua orang dengan kondisi pekerjaan yang sangat berbeda? Orang pertama bekerja dengan gaji yang relatif kecil, tetapi ia mencintai pekerjaannya, menikmati lingkungan kerja yang nyaman, memiliki rekan kerja yang suportif, dan masih mempunyai waktu untuk keluarga. Sementara orang kedua memiliki gaji berkali-kali lipat lebih besar, tetapi setiap hari harus menghadapi persaingan tidak sehat, tekanan pekerjaan, jam kerja panjang, dan pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan minat maupun passion-nya. Lantas, siapa yang lebih bahagia?
Selama ini, banyak orang menganggap bahwa semakin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula tingkat kebahagiaan seseorang. Padahal, uang bukan satu-satunya faktor yang menentukan kebahagiaan dalam bekerja. Gaji memang memberikan rasa aman secara finansial dan membantu memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tidak otomatis memberikan ketenangan pikiran, kepuasan batin, maupun kualitas kehidupan yang lebih baik. Sebab, ada hal-hal yang nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tercantum dalam slip gaji.
Salah satu faktor penting adalah meaningful work, yaitu ketika seseorang merasa bahwa pekerjaan yang dilakukannya memiliki makna dan sesuai dengan nilai serta minat pribadinya. Penelitian meta-analisis yang dipublikasikan dalam Journal of Management Studies (2019), berdasarkan 44 penelitian dengan total 23.144 responden, menemukan hubungan kuat antara pekerjaan yang bermakna dengan kepuasan kerja, keterikatan terhadap organisasi, dan komitmen kerja. Artinya, ketika seseorang menemukan makna dalam pekerjaannya, ada peluang lebih besar baginya untuk menikmati perjalanan profesionalnya.
Faktor berikutnya adalah lingkungan kerja yang sehat. Bayangkan bekerja di tempat yang setiap hari dipenuhi intrik, saling menjatuhkan, perebutan pengakuan, tekanan berlebihan, bahkan rasa takut melakukan kesalahan. Sebesar apa pun gaji yang diterima, kondisi seperti ini dapat menggerus kesehatan mental dan kebahagiaan. WHO dalam publikasi Mental Health at Work (2026) mengidentifikasi beban kerja berlebihan, jam kerja panjang, rendahnya kendali atas pekerjaan, perundungan, serta budaya organisasi yang negatif sebagai sejumlah risiko terhadap kesehatan mental pekerja.
Hal lain yang sering terlupakan adalah keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance). Apa artinya memiliki penghasilan besar jika hampir tidak pernah menikmati waktu bersama pasangan, anak, atau orang-orang tercinta? Apa gunanya jabatan tinggi jika tubuh selalu kelelahan dan pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat? Pekerjaan seharusnya menjadi bagian dari kehidupan yang membantu seseorang membangun kualitas hidup, bukan mengambil seluruh waktu dan energi hingga ia kehilangan kesempatan untuk menikmati kehidupannya sendiri.
Data Gallup dalam State of the Global Workplace 2026 menunjukkan bahwa hanya 30% pekerja di Indonesia yang tergolong engaged atau memiliki keterikatan tinggi terhadap pekerjaannya, berdasarkan data tahun 2025. Sementara itu, secara global, hanya 34% pekerja yang masuk kategori thriving dalam evaluasi kehidupan mereka. Data ini memang tidak secara langsung mengukur kebahagiaan atau membuktikan bahwa gaji bukan faktor penentu, tetapi memberikan gambaran bahwa kesejahteraan pekerja merupakan persoalan yang jauh lebih luas daripada sekadar kompensasi finansial.
Namun, bukan berarti gaji tidak penting atau seseorang harus mengorbankan kesejahteraan finansial demi passion. Penghasilan yang layak tetap merupakan hak pekerja dan kebutuhan mendasar untuk menjalani kehidupan yang sejahtera. Yang perlu kita pahami adalah bahwa gaji besar tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan karier. Pekerjaan yang ideal adalah pekerjaan yang memungkinkan seseorang memperoleh penghasilan yang layak, berkembang sesuai potensinya, merasa dihargai, bekerja dalam lingkungan yang sehat, dan tetap memiliki kehidupan di luar pekerjaannya.
Pada akhirnya, kebahagiaan dalam bekerja bukan hanya tentang berapa banyak uang yang kita hasilkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan ketika sedang bekerja dan setelah pekerjaan selesai. Sebab, ada kebahagiaan ketika bangun pagi tanpa rasa takut menghadapi pekerjaan, ada ketenangan ketika berada di lingkungan yang saling mendukung, dan ada kepuasan ketika kita masih memiliki waktu untuk orang-orang yang kita cintai. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari uang untuk menikmati kehidupan, hingga lupa bahwa kehidupan itu sendiri sedang kita korbankan untuk mendapatkan uang.
Belum Ada Tanggapan
Jadilah pembaca pertama yang memberikan pandangan profesional atau tanggapan terkait kajian ini.